STRATEGI PEMECAHAN MASALAH KESEHATAN REPRODUKSI DI INDONESIA

Posted: Juli 21, 2011 in Uncategorized

Oleh : Nasrul Haq Syarif

Ketua Bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

PC IMM Kota Makassar Periode 2009-2010

Pada tahun 1994 diadakan Konferensi Internasional tentang Kependudukan dan Pembangunan (International Conference On Population And Development/ICPD) di Kairo. Sejak itulah masalah kesehatan reproduksi menjadi perhatian dunia. Dalam konferensi itu disepakati beberapa program yaitu pendidikan dan konseling, perlindungan remaja terhadap kekerasan, hubungan seksual yang nyaman, kesehatan reproduksi, penyakit menular seksual termasuk HIV/AIDS, program preventif dan perawatan pelecehan seksual.

Kesehatan reproduksi adalah suatu kondisi sehat yang bukan saja bebas dari penyakit atau kecacatan namun lebih dari pada itu adalah sehat secara mental dan sosial yang berkaitan dengan system, fungsi serta proses reproduksi termasuk angka hubungan seks sebelum nikah, kehamilan yang tidak diinginkan (KTD), angka penggunaan narkoba, angka pengidap HIV/AIDS serta kasus aborsi (Israwati dan Sarbaini, 2003).

Data WHO menunjukkan bahwa kurang dari 111 juta infeksi menular seksual di derita oleh kelompok usia di bawah 25 tahun. Kaum muda dan remaja sangat berisiko tinggi terhadap infeksi menular seksual (IMS) termasuk HIV/AIDS. Menurut UNAIDS, sebanyak 67 kasus baru HIV/AIDS di Negara berkembang adalah di kalangan usia muda (15-24 tahun). Jumlah itu 60 % adalah perempuan. Di Indonesia hingga akhir tahun 2000 terdapat 6050 kasus HIV/AIDS sebagian besar kelompok yang terinfeksi adalah  remaja antara 15 – 29 tahun lebih dari 56 %.

Beranjak dari semua hal tersebut maka diperlukan suatu strategi  yang cukup praktis dan mudah untuk memberikan pengetahuan pada remaja tentang kesehatan reproduksi, HIV/AIDS, dan NAPZA. Langkah ini dilakukan karena mengingat remaja adalah tunas bangsa. Kejayaan masa depan sangat tergantung dari kondisi remaja masa kini.

  1. Optimalisasi Peran Social Control Mahasiswa

Posisi mahasiswa sebagai social control sangat strategis. Mahasiswa merupakan kaum idealis yang mampu mengejawantahkan ide dan mengawal setiap fenomena yang terjadi disekeliling. Kondisi terpuruk yang melanda bangsa dalam hal kesehatan reproduksi remaja sangat terasa. Kenyataan sangat memprihatinkan ketika mengingat kenyataan bahwa jumlah remaja di Indonesia yang berusia 12-24 tahun mencapai 28% dari 220 juta jiwa penduduk Indonesia.

Namun, sebagian besar dari mereka menghadapi berbagai masalah yang sangat kompleks berkaitan dengan kesehatan reproduksi dan seksualnya. Setiap hari, mereka harus menjalani kehidupan reproduksinya dengan penuh resiko. Mulai resiko kehamilan yang tidak direncanakan (KTD), eksploitasi dan kekerasan seksual, penyakit hubungan seksual (IMS) sampai

resiko terinfeksi HIV/AIDS.

Berdasarkan hasil survey IRRMA dari berbagai wilayah di Indonesia. Jumlah remaja yang telah aktif melakukan hubungan seksual diperkirakan rata-rata mencapai 28,8%. Peningkatan remaja yang telah melakukan hubungan seksual aktif inilah yang memberikan kontribusi terhadap peningkatan unwanted pregnancy yang diperkirakan sekitar 1,5 juta per tahun, unsafe abortion mencapai 300,000 orang per tahun dan peningkatan kasus IMS, HIV/AIDS diperkirakan 75,000 – 150,000 per tahun. Lagi-lagi dari hasil penelitian inipun, terungkap pengetahuan mereka tentang kesehatan reproduksi dan seksual umumnya sangat buruk.

Peran sentral mahasiswa harus dimanfaat secara optimal. Social control bukan hanya sebatas pada ranah politik semata. Tetapi harus melebarkan sayap dalam mengawal realitas sosial. Meningkatnya presentasi penderita HIV-AIDS, IMS, Narkoba merupakan suatu realitas yang harus di ramu secara bersama. Mahasiswa sebagai kaum intelektual yang memiliki daya nalar yang lebih. Tampil terdepan dalam meminimalisir pergaulan bebas yang terjadi dimasyarakat.

Mahasiswa mestinya sadar dengan posisinya. Memperbaiki segala macam hal yang merusak citra bangsa untuk diperbaiki bersama.  Meskipun sabahagian penderita HIV-AIDS, ISM, dan Narkoba berlatar belakang mahasiswa. Tetapi pada hakikatnya jika merujuk pada nilai yang sesungguhnya. Seorang mahasiswa harus anti dengan hal-hal tersebut. Oleh karena itu peran strategis yang dimiliki oleh mahasiswa jangan disia-siakan. Peran social control merupakan peran yang sangat mulia. Ditinjau dari sudut pandang sosial sangat mendukung terlebih dari sudut pandang agama.

Mahasiswa tampil terdepan menjadi social control. Mengawal kesehatan reproduksi beserta hal-hal yang terkait dengannya. Dalam pandangan sosial, memberikan usaha meminimalisasi segala macam bentuk dampak yang ditimbulkan dari pergaulan bebas. Nilai-nilai idealis ditingkatkan guna kemakmuran generasi pelanjut bangsa. Perlu disadari bersama bahwa tanpa control social maka patologi sosial akan menjadi jamur yang tetap tumbuh pada sisi kehidupan masyarakat. Upaya control sosial dilakukan untuk meningkatkan peran mahasiswa dalam kesehatan reproduksi remaja sekaligus turut mengambil peran dalam menyelamatkan bangsa.

Mahasiswa yang acuh terhadap masyarakat mengalami kerugian yang besar jika ditinjau dari segi hubungan keharmonisan dan penerapan ilmu. Dari segi keharmonisan, mahasiswa tersebut sudah menutup diri dari lingkungan sekitarnya sehingga muncul sikap apatis dan hilangnya silaturrahim seiring hilangnya harapan masyarakat kepada mahasiswa. Dari segi penerapan ilmu, mahasiswa yang acuh akan menyianyiakan ilmu yang didapat di perguruan tinggi, mahasiswa terhenti dalam pergerakan dan menjadi sangat kurang kuantitas sumbangsih ilmunya pada masyarakat.

2.  Pendidikan Seks Melalui Pendekatan Kelompok.

Remaja ketika sudah beranjak pada masa puberitas maka berbagai macam hal  akan menjadi bahan percobaan. Mulai mencari kelompok yang dianggap memiliki kesamaan persepsi dan pandangan. Pada saat seperti ini terkadang banyak yang salah memilih kelompok bermain sehingga terjerumus dalam kenakalan remaja. Kelompok pada dasarnya terbentuk atas dasar :

  1. Berdasarkan  Tujuan

Kelompok adalah satu unit yang terdiri dari dua orang atau lebih dan berada pada satu kelompok untuk satu tujuan dan mempertimbangkan bahwa kontaknya memiliki arti. (Iskandar, 1990 :120)

2. Berdasarkan Interaksi

Sejumlah orang yang berinteraksi dengan sesame lainnya dan proses interaksi membedakan bentuk kelompok-kelompok bersama

3. Berdasarkan Organisasi

Suatu sisten yang diorganisasikan pada dua orang atau lebih yang dihubungkan satu dengan yang lainnya. Sistem tersebut menunjukkan fungsi yang sama, memiliki sekumpulan standar  peran dalam berhubungan antar anggotanya dan memiliki sekumpulan norma yang mengatur fungsi kelompok. (Iskandar, 1990:20)

4. Berdasarkan Persepsi

Sejumlah orang yang memiliki persepsi kolektif mengenai kesatuan dan memiliki kemampuan untuk bertindak dalam cara yang sama terhadap lingkungan.(Iskandar, 1990:120)

5. Berdasarkan Interpendensi

Kelompok adalah sekumpulan individu yang melakukan hubungan dengan orang lain yang menujukkan saling ketergantungan pada tingkatan yang berarti.(Yusuf, 1988:20-21).

6. Berdasarkan Motivasi

Kumpulan individu yang dalam hubungannya dapat memuaskan kebutuhan satu dengan yang lainnya untuk bergabung dalam satu kelompok untuk memenuhi kebutuhan yang muncul pada diri.(Iskandar, 1990:20)

Berdasarkan  dalam pandangan tersebut diatas maka pendidikan seks diberikan kepada remaja berdasarkan kelompoknya. Terkadang penyuluh mengadakan sosialisasi kepada remaja. Tetapi tidak semua respon dengan hal tersebut. Hal tersebut dikarenakan tingkat pengetahuan remaja berbeda-beda. Ada yang ketika mendengar kata seks sudah tidak berfikiran kotor. Disamping itu ada juga yang ketika mendengar kata seks maka langsung terbayang dengan hal-hal yang vulgar seperti pornografi dan pornoaksi.

Pendekatan ini merupakan pembinaan pribadi dalam kelompok maupun kelompok sebagai suatu kesatuan yang dinamis. Menurut ukurannya, kelompok dapat kecil dan dapat pula besar. Kelompok kecil, pembinaan yang efektif lebih mudah terjadi dalam kelompok kecil. Kelompok besar, diperlukan pada kesempatan-kesempatan khusus, karena bermanfaat untuk meneguhkan serta memberi semangat. Metode-metode yang digunakan dalam pembinaan umumnya adalah metode androgogi dengan ciri-ciri eksperiensial dan dialogis partisipatif.

  1. Eksperiensial, berarti mengajak mereka menggumuli pengalaman-pengalaman hidup untuk menemukan sendiri arti dan makna baru bagi perkembangannya.
  2. Dialogis partisipatif, berarti melibatkan dan mengaktifkan para peserta bina untuk mengungkapkan diri sebagai pemeran utama dalam proses pembinaan.

Dalam pendidikan seks diberikan pembahasan mengenai triad KRR yaitu :

  1. NAPZA merupakan akronim dari narkotika, alkohol, psikotropika dan zat adiktif lainnya. Zat kimiawi yang dimasukkan kedalam tubuh manusia, baik secara oral (melalui mulut), dihirup (melalui hidung). Pada tataran ini remaja dibekali pengetahuan tentang jenis-jenis narkoba, minuman keras, jenis-jenis psikotropika, penyalahgunaan Napza serta kaitan Napza dengan HIV-AIDS.
  2. IMS merupakan akronim dari infeksi menular seksual. Infeksi yang terjadi dan penularannya melalui hubungan seksual seperti  kencing nanah, sifilis, herpes genital, ulkus dan lain-lain. Selain hal tersebut, diuraikan pula hal-hal yang menyangkut puberitas, menstruasi, orientasi seksual dan perilaku seksual.
  3. HIV/AIDS merupakan akronim dari Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Immune Deviciency Syndrome (AIDS). Remaja diberikan pemahaman terkait proses penularan dan penyebaran HIV/AIDS, pencegahan dan penanggulangan dan lain-lain yang terkait dengan HIV/AIDS.

3.   Homeschooling Sebagai Strategi Alternatif.

Strategi melalui homeschooling dilatarbelakangi oleh fakta bahwa pergaulan bebas disebabkan oleh kurangnya kontrol orang tua dan  aktivitas yang bermanfaat. Sehingga menyebabkan remaja ( baca : mahasiwa ) terjerumus pada kenakalan remaja. Pergaulan bebas berdasarkan hasil penelitian di 12 kota di Indonesia termasuk Makassar menunjukkan 10-31% remaja yang belum menikah sudah pernah melakukan hubungan seksual.

Sebanyak 67 persen dari sekitar 1.800 orang penderita HIV/AIDS (ODHA) di Sulawesi Selatan  menderita sakit kelamin. Berdasarkan data terakhir Dinas Kesehatan Sulawesi Selatan, sumbangan jumlah penderita Penyakit Menular Seksual itu telah menempatkan daerah ini berada pada peringkat kedua terbesar penderita PMS di Indonesia. Pada sumber yang lain disebutkan ( PKVHI Sulawesi Selatan )  bahwa jumlah kasus HIV dan AIDS sampai dengan Desember 2009 sebanyak 3.105 kasus, dengan rincian, HIV  sebanyak  2330Kasus dan  AIDS  sebanyak  775  kasus. Selain itu pengguna narkoba di provinsi ini mencapai 103 ribu orang. Data statistik nasional mengenai penderita HIV/AIDS di Indonesia menunjukkan bahwa sekitar 75% terjangkit hilangnya kekebalan daya tubuh pada usia remaja.

Perlu dipahami bersama bahwa homeschooling mempunyai penjabaran tersendiri. Salah satu pengertian umum homeschooling adalah sebuah keluarga yang memilih untuk bertanggung jawab sendiri atas pendidikan anak-anak dan mendidik anaknya dengan berbasis rumah. Pada homeschooling, orang tua bertanggung jawab sepenuhnya atas proses pendidikan anak. Walaupun orang tua menjadi penanggung jawab utama homeschooling, tetapi pendidikan homeschooling tidak hanya dan tidak harus dilakukan oleh orang tua. Selain mengajar sendiri, orang tua dapat mengundang guru privat, mendaftarkan anak pada kursus, melibatkan anak-anak pada proses magang (internship), dan sebagainya.

Indonesia baru memasuki awal pengenalan homeschooling. Sebagian praktisi homeschooling dipicu oleh pengetahuan mereka ketika bersekolah atau tinggal di luar negeri. Sebagian yang lain menempuh homeschooling karena berbagai pertimbangan keluarga dan pribadi. Beberapa orang tua yang menjalankan homeschooling bagi anak-anaknya mulai berinteraksi dan membentuk jaringan (networking). Sebagian para praktisi homeschooling juga telah membentuk komunitas homeschooling lokal bersama orang tua lainnya. Jaringan dan komunitas ini diharapkan terus tumbuh, membesar, tersebar, dan mandiri di berbagai kota di Indonesia.

Walaupun awalnya dipersepsi sebagai kelompok konservatif dan penyendiri (isolationists), homeschooling terus tumbuh dan membuktikan diri sebagai sistem yang efektif dan dapat dijalankan. Praktisi homeschooling pun semakin bervariasi dengan berbagai alasan memilih homeschooling dan dengan beragam latar belakang sosial, agama dan sekuler, kaya, kelas menengah, miskin kota (urban), pinggiran (suburban), pedesaan (rural). Keluarga praktisi homeschooling memiliki beragam profesi; dokter, pegawai pemerintah, pegawai swasta, pemilik bisnis, bahkan guru di sekolah umum.

Homeschooling (HS) adalah model alternatif belajar selain di sekolah. Tidak ada sebuah definisi tunggal mengenai homeschooling. Selain homeschooling, ada istilah “home education”, atau “home-based learning” yang digunakan untuk maksud yang kurang lebih sama. Berbagai riset independen menunjukkan bahwa homeschooling dapat dijalankan dan berhasil. Selama bertahun-tahun, homeschooling terbukti dapat  berjalan baik untuk segala jenjang pendidikan, mulai sekolah dasar hingga sekolah menengah atas.

 

Dipresentasekan pada Pemilihan Duta Mahasiswa tingkat Nasional tahun 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s