Oleh : Nasrul Haq Syarif

Ketua Bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

PC IMM Kota Makassar Periode 2009-2010

Pada tahun 1994 diadakan Konferensi Internasional tentang Kependudukan dan Pembangunan (International Conference On Population And Development/ICPD) di Kairo. Sejak itulah masalah kesehatan reproduksi menjadi perhatian dunia. Dalam konferensi itu disepakati beberapa program yaitu pendidikan dan konseling, perlindungan remaja terhadap kekerasan, hubungan seksual yang nyaman, kesehatan reproduksi, penyakit menular seksual termasuk HIV/AIDS, program preventif dan perawatan pelecehan seksual.

Kesehatan reproduksi adalah suatu kondisi sehat yang bukan saja bebas dari penyakit atau kecacatan namun lebih dari pada itu adalah sehat secara mental dan sosial yang berkaitan dengan system, fungsi serta proses reproduksi termasuk angka hubungan seks sebelum nikah, kehamilan yang tidak diinginkan (KTD), angka penggunaan narkoba, angka pengidap HIV/AIDS serta kasus aborsi (Israwati dan Sarbaini, 2003).

Data WHO menunjukkan bahwa kurang dari 111 juta infeksi menular seksual di derita oleh kelompok usia di bawah 25 tahun. Kaum muda dan remaja sangat berisiko tinggi terhadap infeksi menular seksual (IMS) termasuk HIV/AIDS. Menurut UNAIDS, sebanyak 67 kasus baru HIV/AIDS di Negara berkembang adalah di kalangan usia muda (15-24 tahun). Jumlah itu 60 % adalah perempuan. Di Indonesia hingga akhir tahun 2000 terdapat 6050 kasus HIV/AIDS sebagian besar kelompok yang terinfeksi adalah  remaja antara 15 – 29 tahun lebih dari 56 %.

Beranjak dari semua hal tersebut maka diperlukan suatu strategi  yang cukup praktis dan mudah untuk memberikan pengetahuan pada remaja tentang kesehatan reproduksi, HIV/AIDS, dan NAPZA. Langkah ini dilakukan karena mengingat remaja adalah tunas bangsa. Kejayaan masa depan sangat tergantung dari kondisi remaja masa kini.

  1. Optimalisasi Peran Social Control Mahasiswa

Posisi mahasiswa sebagai social control sangat strategis. Mahasiswa merupakan kaum idealis yang mampu mengejawantahkan ide dan mengawal setiap fenomena yang terjadi disekeliling. Kondisi terpuruk yang melanda bangsa dalam hal kesehatan reproduksi remaja sangat terasa. Kenyataan sangat memprihatinkan ketika mengingat kenyataan bahwa jumlah remaja di Indonesia yang berusia 12-24 tahun mencapai 28% dari 220 juta jiwa penduduk Indonesia.

Namun, sebagian besar dari mereka menghadapi berbagai masalah yang sangat kompleks berkaitan dengan kesehatan reproduksi dan seksualnya. Setiap hari, mereka harus menjalani kehidupan reproduksinya dengan penuh resiko. Mulai resiko kehamilan yang tidak direncanakan (KTD), eksploitasi dan kekerasan seksual, penyakit hubungan seksual (IMS) sampai

resiko terinfeksi HIV/AIDS.

Berdasarkan hasil survey IRRMA dari berbagai wilayah di Indonesia. Jumlah remaja yang telah aktif melakukan hubungan seksual diperkirakan rata-rata mencapai 28,8%. Peningkatan remaja yang telah melakukan hubungan seksual aktif inilah yang memberikan kontribusi terhadap peningkatan unwanted pregnancy yang diperkirakan sekitar 1,5 juta per tahun, unsafe abortion mencapai 300,000 orang per tahun dan peningkatan kasus IMS, HIV/AIDS diperkirakan 75,000 – 150,000 per tahun. Lagi-lagi dari hasil penelitian inipun, terungkap pengetahuan mereka tentang kesehatan reproduksi dan seksual umumnya sangat buruk.

Peran sentral mahasiswa harus dimanfaat secara optimal. Social control bukan hanya sebatas pada ranah politik semata. Tetapi harus melebarkan sayap dalam mengawal realitas sosial. Meningkatnya presentasi penderita HIV-AIDS, IMS, Narkoba merupakan suatu realitas yang harus di ramu secara bersama. Mahasiswa sebagai kaum intelektual yang memiliki daya nalar yang lebih. Tampil terdepan dalam meminimalisir pergaulan bebas yang terjadi dimasyarakat.

Mahasiswa mestinya sadar dengan posisinya. Memperbaiki segala macam hal yang merusak citra bangsa untuk diperbaiki bersama.  Meskipun sabahagian penderita HIV-AIDS, ISM, dan Narkoba berlatar belakang mahasiswa. Tetapi pada hakikatnya jika merujuk pada nilai yang sesungguhnya. Seorang mahasiswa harus anti dengan hal-hal tersebut. Oleh karena itu peran strategis yang dimiliki oleh mahasiswa jangan disia-siakan. Peran social control merupakan peran yang sangat mulia. Ditinjau dari sudut pandang sosial sangat mendukung terlebih dari sudut pandang agama.

Mahasiswa tampil terdepan menjadi social control. Mengawal kesehatan reproduksi beserta hal-hal yang terkait dengannya. Dalam pandangan sosial, memberikan usaha meminimalisasi segala macam bentuk dampak yang ditimbulkan dari pergaulan bebas. Nilai-nilai idealis ditingkatkan guna kemakmuran generasi pelanjut bangsa. Perlu disadari bersama bahwa tanpa control social maka patologi sosial akan menjadi jamur yang tetap tumbuh pada sisi kehidupan masyarakat. Upaya control sosial dilakukan untuk meningkatkan peran mahasiswa dalam kesehatan reproduksi remaja sekaligus turut mengambil peran dalam menyelamatkan bangsa.

Mahasiswa yang acuh terhadap masyarakat mengalami kerugian yang besar jika ditinjau dari segi hubungan keharmonisan dan penerapan ilmu. Dari segi keharmonisan, mahasiswa tersebut sudah menutup diri dari lingkungan sekitarnya sehingga muncul sikap apatis dan hilangnya silaturrahim seiring hilangnya harapan masyarakat kepada mahasiswa. Dari segi penerapan ilmu, mahasiswa yang acuh akan menyianyiakan ilmu yang didapat di perguruan tinggi, mahasiswa terhenti dalam pergerakan dan menjadi sangat kurang kuantitas sumbangsih ilmunya pada masyarakat.

2.  Pendidikan Seks Melalui Pendekatan Kelompok.

Remaja ketika sudah beranjak pada masa puberitas maka berbagai macam hal  akan menjadi bahan percobaan. Mulai mencari kelompok yang dianggap memiliki kesamaan persepsi dan pandangan. Pada saat seperti ini terkadang banyak yang salah memilih kelompok bermain sehingga terjerumus dalam kenakalan remaja. Kelompok pada dasarnya terbentuk atas dasar :

  1. Berdasarkan  Tujuan

Kelompok adalah satu unit yang terdiri dari dua orang atau lebih dan berada pada satu kelompok untuk satu tujuan dan mempertimbangkan bahwa kontaknya memiliki arti. (Iskandar, 1990 :120)

2. Berdasarkan Interaksi

Sejumlah orang yang berinteraksi dengan sesame lainnya dan proses interaksi membedakan bentuk kelompok-kelompok bersama

3. Berdasarkan Organisasi

Suatu sisten yang diorganisasikan pada dua orang atau lebih yang dihubungkan satu dengan yang lainnya. Sistem tersebut menunjukkan fungsi yang sama, memiliki sekumpulan standar  peran dalam berhubungan antar anggotanya dan memiliki sekumpulan norma yang mengatur fungsi kelompok. (Iskandar, 1990:20)

4. Berdasarkan Persepsi

Sejumlah orang yang memiliki persepsi kolektif mengenai kesatuan dan memiliki kemampuan untuk bertindak dalam cara yang sama terhadap lingkungan.(Iskandar, 1990:120)

5. Berdasarkan Interpendensi

Kelompok adalah sekumpulan individu yang melakukan hubungan dengan orang lain yang menujukkan saling ketergantungan pada tingkatan yang berarti.(Yusuf, 1988:20-21).

6. Berdasarkan Motivasi

Kumpulan individu yang dalam hubungannya dapat memuaskan kebutuhan satu dengan yang lainnya untuk bergabung dalam satu kelompok untuk memenuhi kebutuhan yang muncul pada diri.(Iskandar, 1990:20)

Berdasarkan  dalam pandangan tersebut diatas maka pendidikan seks diberikan kepada remaja berdasarkan kelompoknya. Terkadang penyuluh mengadakan sosialisasi kepada remaja. Tetapi tidak semua respon dengan hal tersebut. Hal tersebut dikarenakan tingkat pengetahuan remaja berbeda-beda. Ada yang ketika mendengar kata seks sudah tidak berfikiran kotor. Disamping itu ada juga yang ketika mendengar kata seks maka langsung terbayang dengan hal-hal yang vulgar seperti pornografi dan pornoaksi.

Pendekatan ini merupakan pembinaan pribadi dalam kelompok maupun kelompok sebagai suatu kesatuan yang dinamis. Menurut ukurannya, kelompok dapat kecil dan dapat pula besar. Kelompok kecil, pembinaan yang efektif lebih mudah terjadi dalam kelompok kecil. Kelompok besar, diperlukan pada kesempatan-kesempatan khusus, karena bermanfaat untuk meneguhkan serta memberi semangat. Metode-metode yang digunakan dalam pembinaan umumnya adalah metode androgogi dengan ciri-ciri eksperiensial dan dialogis partisipatif.

  1. Eksperiensial, berarti mengajak mereka menggumuli pengalaman-pengalaman hidup untuk menemukan sendiri arti dan makna baru bagi perkembangannya.
  2. Dialogis partisipatif, berarti melibatkan dan mengaktifkan para peserta bina untuk mengungkapkan diri sebagai pemeran utama dalam proses pembinaan.

Dalam pendidikan seks diberikan pembahasan mengenai triad KRR yaitu :

  1. NAPZA merupakan akronim dari narkotika, alkohol, psikotropika dan zat adiktif lainnya. Zat kimiawi yang dimasukkan kedalam tubuh manusia, baik secara oral (melalui mulut), dihirup (melalui hidung). Pada tataran ini remaja dibekali pengetahuan tentang jenis-jenis narkoba, minuman keras, jenis-jenis psikotropika, penyalahgunaan Napza serta kaitan Napza dengan HIV-AIDS.
  2. IMS merupakan akronim dari infeksi menular seksual. Infeksi yang terjadi dan penularannya melalui hubungan seksual seperti  kencing nanah, sifilis, herpes genital, ulkus dan lain-lain. Selain hal tersebut, diuraikan pula hal-hal yang menyangkut puberitas, menstruasi, orientasi seksual dan perilaku seksual.
  3. HIV/AIDS merupakan akronim dari Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Immune Deviciency Syndrome (AIDS). Remaja diberikan pemahaman terkait proses penularan dan penyebaran HIV/AIDS, pencegahan dan penanggulangan dan lain-lain yang terkait dengan HIV/AIDS.

3.   Homeschooling Sebagai Strategi Alternatif.

Strategi melalui homeschooling dilatarbelakangi oleh fakta bahwa pergaulan bebas disebabkan oleh kurangnya kontrol orang tua dan  aktivitas yang bermanfaat. Sehingga menyebabkan remaja ( baca : mahasiwa ) terjerumus pada kenakalan remaja. Pergaulan bebas berdasarkan hasil penelitian di 12 kota di Indonesia termasuk Makassar menunjukkan 10-31% remaja yang belum menikah sudah pernah melakukan hubungan seksual.

Sebanyak 67 persen dari sekitar 1.800 orang penderita HIV/AIDS (ODHA) di Sulawesi Selatan  menderita sakit kelamin. Berdasarkan data terakhir Dinas Kesehatan Sulawesi Selatan, sumbangan jumlah penderita Penyakit Menular Seksual itu telah menempatkan daerah ini berada pada peringkat kedua terbesar penderita PMS di Indonesia. Pada sumber yang lain disebutkan ( PKVHI Sulawesi Selatan )  bahwa jumlah kasus HIV dan AIDS sampai dengan Desember 2009 sebanyak 3.105 kasus, dengan rincian, HIV  sebanyak  2330Kasus dan  AIDS  sebanyak  775  kasus. Selain itu pengguna narkoba di provinsi ini mencapai 103 ribu orang. Data statistik nasional mengenai penderita HIV/AIDS di Indonesia menunjukkan bahwa sekitar 75% terjangkit hilangnya kekebalan daya tubuh pada usia remaja.

Perlu dipahami bersama bahwa homeschooling mempunyai penjabaran tersendiri. Salah satu pengertian umum homeschooling adalah sebuah keluarga yang memilih untuk bertanggung jawab sendiri atas pendidikan anak-anak dan mendidik anaknya dengan berbasis rumah. Pada homeschooling, orang tua bertanggung jawab sepenuhnya atas proses pendidikan anak. Walaupun orang tua menjadi penanggung jawab utama homeschooling, tetapi pendidikan homeschooling tidak hanya dan tidak harus dilakukan oleh orang tua. Selain mengajar sendiri, orang tua dapat mengundang guru privat, mendaftarkan anak pada kursus, melibatkan anak-anak pada proses magang (internship), dan sebagainya.

Indonesia baru memasuki awal pengenalan homeschooling. Sebagian praktisi homeschooling dipicu oleh pengetahuan mereka ketika bersekolah atau tinggal di luar negeri. Sebagian yang lain menempuh homeschooling karena berbagai pertimbangan keluarga dan pribadi. Beberapa orang tua yang menjalankan homeschooling bagi anak-anaknya mulai berinteraksi dan membentuk jaringan (networking). Sebagian para praktisi homeschooling juga telah membentuk komunitas homeschooling lokal bersama orang tua lainnya. Jaringan dan komunitas ini diharapkan terus tumbuh, membesar, tersebar, dan mandiri di berbagai kota di Indonesia.

Walaupun awalnya dipersepsi sebagai kelompok konservatif dan penyendiri (isolationists), homeschooling terus tumbuh dan membuktikan diri sebagai sistem yang efektif dan dapat dijalankan. Praktisi homeschooling pun semakin bervariasi dengan berbagai alasan memilih homeschooling dan dengan beragam latar belakang sosial, agama dan sekuler, kaya, kelas menengah, miskin kota (urban), pinggiran (suburban), pedesaan (rural). Keluarga praktisi homeschooling memiliki beragam profesi; dokter, pegawai pemerintah, pegawai swasta, pemilik bisnis, bahkan guru di sekolah umum.

Homeschooling (HS) adalah model alternatif belajar selain di sekolah. Tidak ada sebuah definisi tunggal mengenai homeschooling. Selain homeschooling, ada istilah “home education”, atau “home-based learning” yang digunakan untuk maksud yang kurang lebih sama. Berbagai riset independen menunjukkan bahwa homeschooling dapat dijalankan dan berhasil. Selama bertahun-tahun, homeschooling terbukti dapat  berjalan baik untuk segala jenjang pendidikan, mulai sekolah dasar hingga sekolah menengah atas.

 

Dipresentasekan pada Pemilihan Duta Mahasiswa tingkat Nasional tahun 2010

IMMAWAN YASER JURAID

Ketua Bidang Hikmah PC IMM kota Makassar Periode 2010

Mari kita Membangun kesadaran Positivisme dalam memandang berbagai kultur dan fenomena kampus yang senantiasa terjadi  dewasa ini.  Terutama di kampus-kampus besar yang ada di  Kota Makassar. Kebiasaan dan perilaku mahasiswa sekarang  sangat jauh dari harapan masyarakat dan bangsa, karena indikatornya  mahasiswa sangat kontradiktif dari  visi dan misi atau tujuan dari pada mahasiswa itu sendiri. Karena mayoritasnya  mahasiswa tidak memilikil agi  citra dan nilai integritas yang ideal.

Kampus  dewasa ini sudah di warnai dengan kultur dan kebiasaan Hedonisme, Pragmatisme dan premanisme yang cenderung merusak dan membuat kampus kacau balau. Tindakan kriminal , keonaran, konflik dan tawuran di kampus sesama mahasiswa akhir-akhir ini semakin marak dan konstruktif  yang konsekuensinya merusak berbagai fasilitas kampus. Fenomena seperti  ini sudah membudaya di dunia kemahasiswaan.

Dunia kampus dianggap sebagai dunia Intelektual Ilmiah. Tetapi kenyataannya sangat kurang dan hampir tidak ada aktifitas mahasiswa yang mencerminkan nilai-nilai Intelektual seperti diskusi, kajian intensif, pelatihan, seminar dan lain-lain. Meskipun ada tetapi sangat jarang diadakan dan mahasiswa  juga kurang semangat partisipasi pada kegiatan tersebut.

Lembaga-lembaga intra  kampus seperti BEM, HMJ maupun Lembaga Eksternal yang di anggap mempunyai latarbelakang dan bertanggungjawab di bidang intelektual. Kurang sekali yang mengadakan aktifitas yang mengarah pada ranah intelektual  yang menjadi hakekat dan orintasinya.  Justru indikator yang terjadi di tingkat lembaga intra kemahasiswaan adalah gerakan yang cenderung politik praktis yang orientasinya menciptakan kampus yang tidak stabil dan menjadi oposisi  bagi lembaga lain. Sehingga melahirkan permusuhan dan benturan di dalam kampus. Kenyataanya juga di lapangan sebagian kecil Kader IMM terjerumus dan menjerumuskan diri di dalam Mainstream kultur seperti itu. Sadar atau tidak tetapi itu menjadi tolak ukur bahwa ternyata Kader IMM sangat jauh dari kesadaran intelektual dan spritual.

Kalaupun IMM Secara Kelembagaan tidak mendiskusikan masalah ini. Bukan hal yang tidak mungkin secara berangsur-angsur kader IMM  kedepan akan terjebak pada kultur yang mengacu pada pengrusakan ideologi dan eksistensial. Artianya akan terkontaminasi dan terhegemoni dengan kultur atau pola pikir yang menyimpang seperti yang di jelaskan di atas tadi, karena sekarang sudah ada indikasi dan  tercermin di dalam diri kader .

Langkah IMM kedepan.

            Kader IMM secara pribadi maupun secara kelembagaan harus bekerja keras dan mampu memainkan berbagai peranan dan langkah-langkah strategis untuk mencoba merekonsiliasi dan  merombak kembali kebiasaan dan paradigma berpikir mahasiswa yang sekarang  sedang ada dalam frame berpikir yang salah. Berusaha membentuk paradigma berpikir transformatif, kritis, religius dalam bingkai Amal Ma’ruf Nahi Mungkar dengan berbagai metode. Diantaranya membangun kultur diskusi secara efektif, kajian intensif , seminar ilmiah maupun aktifitas Intelektual lainnya. Hal yang paling urgen dilakukan oleh aktifis IMM yaitu “ Pencerahan Umat “ dengan tiga proses pendidikan terdiri dari ta’lim ; mencerdaskan otak manusia, tarbiah ; mendidik perilaku yang benar, dan ta’dib ; memperluas adab kesopanan.  

Eksistensi gerakan IMM di kota Makassar beberapa tahun terkhir ini sangat Jauh dari harapan  sebagai organisasi  besar yang  punya  sejarah panjang. IMM dewasa ini mengalami degradasi dan degenarasi gerakan yang  tidak mampu mengejewantahkan identitasnya di mata masyarakat (bangsa) ke arah gerakan yang lebih dinamis, progresif dan  kontekstual sesuai dengan roh dan misi IMM yang sesungguhnya. Indikator  gerakan IMM  bersifat  statis dan fakum. Kader IMM  terkungkung dan terasik dengan kegiatan pengkaderan (DAD) yang  kerap dilakukan. Inilah yang terlintas dalam frame kader hari ini  kegiatan tersebut  menjadi prioritas utama.

Semua kader perlu sadar bahwa eksistensi  IMM adalah organisasi kader. Tanpa ada pengkaderan sangat  mustahil ada regenerasi  kader dan pimpinan IMM ke depan.  Tetapi mainstream  yang kita harus  bangun adalah selain partisipasi aktif dalam pengkaderan tersebut.  Kader IMM harus mampu melahirkan ide dan gagasan yang kreaktif. DiImplementasikan secara luas sehingga  IMM kelihatan besar dan punya power di mata publik. Gerakan IMM yang sesungguhnya itu semua tidak lepas dari Trilogi Gerakan IMM itu sendiri yaitu : spritual, Intelektual dan Humanita. Tiga gerakan inilah yang menjadi acuan atau feferensi  dasar  dalam memahami sistematika  orientasi gerakan IMM.

Pertanyaan  yang  muncul dalam benak kita bahwa sejauhmana pengejawantahan paradigma gerakan  IMM sehingga mampu membuktikan identitas gerakannya. Coba kita  spesifikasi orientasi  trilogi gerakan. Misalnya gerakan spritual (Spritual Movement) tentu outputnya secara sederhana bisa bicara mengenai perbaikan akhlaq, moralitas, integritas yang paling subtansial adalah pembentukan aqidah yang kokoh dan Implementasi keimanan Kepada Allah swt. Tetapi realitas di kampus masih banyak mahasiswa yang  tingkah laku maupun perbuatannya sama sekali tidak mencerminkan sebagai seorang Muslim. Lebih ironis lagi di kampus-kampus Islam terutama yang berlabel Muhammadiyah.

Kalau kita menata potensi spritual dan wawasan keislaman yang di miliki kader  tidak di ragukan lagi. Perlu disadari oleh Aktivis IMM bahwa sebagian kader  cenderung membangun paradigma berpikir  eksklusif dan ekstrim sehingga  kurang mampu membangun komunikasi, diskusi, dialektika dengan mahasiswa di luar IMM atupun aktifis dari organisasi lain  sehingga transformasi, dotrinasi yang menjadi orientasi  gerakan spritual tidak maksimal.

Peranan pada wilayah gerakan intelektual, kalau kita mengacu pada gagasannya (Gramsi). Ada beberapa model yang di maksud dengan intelektual.  Ada Intelektual profesional, administrasif, tradisional dan Intelektual organik. Pengamatan penulis, posisi intelektual Kader IMM sekarang berada pada tataran intelektual profesional. Cenderung  semangat pada wilayah konsep  dan argumentasi yang kerapkali dipaparkan di settiap forum–forum diskusi dan kajian ilmiah. Namun   sangat lemah pada wilayah implementasi atau yang di sebut dengan gerakan praksis. Sebahagian juga kader cenderung pada tataran Intelektual administrasi. Artinya, prinsip dan pola pikirnya senanatiasa ta’at, patuh dan tunduk terhadap berbagai sistem dan kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah tertentu. Baik pemerintah stuktural  pemerintahan maupun birokrasi kampus.

Aktifis IMM kelihatan lemah dalam membangun paradigma kritis yang senantiasa mengkaji, mengkritisi atau melawan segala bentuk sistem dan kebijakan yang salah. Inilah yang di maksu dengan intelektual organik. Mampu memadukan antara teori, argumentasi, dan Gerakan Praksis. Mari kita bangun pemahaman objektif dalam memandang berbagai sistem dan kebijakan birokrasi pemerintahan. Masih banyak yang kontradiksi karena tidak sesuai dengan (UUD 1945).  Orientasinya merugikan rakyat kecil. Lebih-lebih kebijakan kampus yang kurang mensuppor atau memberikan konstribusi yang maksimal kepada Organisasi Eksternal  (IMM). Celakanya ketika kampus yang erlogo Muhammadiyah berada pada posisi tersebut.

              Gerakan Humanitas merupakan model gerakan inilah yang senantiasa diperbincangkan oleh aktivis IMM. Subtansi atu orentasi gerakan ini mengacu kepada gerakan kemanusiaan (Human Movement). Peka terhadap berbagai kondisi kemanusiaan yang terjadi. Mencakup juga gerakan sosial (social Movement). Ketika gerakan sosial yang dikaji maka tidak terlepas dari gerakan oposisi (Presure).  Indikatornya mengkaji, mengkritisi segala bentuk kebijakan pemerintah (Birokrasi) yang di anggap tidak adil. Paling urgen lagi yang harus diaplikasikan oleh mahasiswa Islam (baca : kader IMM) seperti apa yang disuarakan oleh Pemuda Muhammadiyah yang dituangkan dalam Buku “ Kembali ke Alquran Menafsirkan Makna jaman ”. Dalam buku ini ada empat poin penting.  Pertama Humanis yaitu mengedepankan sisi kemanusiaan, menolak kekerasan dan radikalisme. Kedua kritis, yaitu melawan segala bentuk penindasan dan ketidakadilan. Ketiga  transformatif yaitu menjadi pelopor untuk mendorong  perubahan sosial. Keempat praktis yaitu mampu memadukan fungsi berpikir, berbicara dan berbuat. Tidak jauh beda dengan model implementasi trilogi gerakan IMM itu sendiri.

Apabila  merefleksi kembali latar belakang organisasi Islam yang bernama IMM ini didirikan maka secara sederhana ada dua Faktor.

1).     Faktor Internal, faktor ini tidak lepas dari kebutuhan Muhammadiyah itu sendiri sebagai induknya. Muhammadiyah tentu membutuhkan pejuang-pejuang muda yang mempunyai talenta dan spirit perjuangan untuk melanjutkan dakwah Muhammadiyah di tingkat pemuda dan mahasiswa yang terkadang menganut paham radikalisme dan fundamentalisme. Terutama mahasiswa yang cenderung pragmatisme yang senantisa mencederai dan merusak moralitas mahasiswa di mata Masyarakat.

2).     Faktor Eksternal adalah berorentasi melawan segala bentuk penindasan dan intimidasi yang di lakukan oleh penguasa pada zaman pra dan pasca kemerdakaan. Penjajahan kolonialisme Belanda   ingin  menguasai Negera Indonesia pada zaman itu.  Paling subtansial lagi adalah melakukan purifikasi atau meluruskan pemahaman umat Islam yang masih kental menganut paham dari nenek moyangnya seperti sinkritisme, onimisme dan pemahaman yang menyimpang lainnya. Mengembalikan kepada pemahaman yang murni sesuai dengan (Alqur’an dan Hadis).

Kalau kita mengevaluasi eksistensi gerakan IMM  dewasa ini, sangat lemah pada wilayah gerakan oposisi presure. Sebagian kader IMM sudah terkontaminasi dengan paradigma konservatif yang cenderung apatis, acuh tak acuh, cuekisme melihat beragai problem dan dinamika yang terjadi. Gagasannya (Frure 1970) menyebutkan ada tiga kesadaran yang ada dalam diri  manusia yaitu megis, naif dan kritis. Sebagian Kader IMM cenderung  menganut kesadaran Megis yang menganggap berbagai persoalan (Problem)  yang ada  adalah sebuah karunia Tuhan yang di terima begitu saja dan senanatiasa meminta solusi atau bantuan kepada Allah  Tanpa ada gerakan ospsisi secara  praksis.

Cara berpikir seperti inilah sehingga ( Karl Marks ) mengeluarkan gagasanya bahwa Agama adalah “ Candu Bagi Masyarakat “. Manusia tidak mempunyai kehandak will dalam bersikap atau menentukan pilihan hidupnya. Kita harus menafsirkan pesan – pesan yang terkandung dalam Al Qur’an secara mendalam dan kontekstual sesuai dengan karakter zaman yang dihadapi karena didalamnya berbagai macam pesan Allah Swt yang harus dilakukan oleh manusia. Menurut Kontowijoyo Al qur’an sebagai paradigma yang melahirkan kerangka epistimologi dan aksiologi dalam menafsirkan ralitas sosial. Salah satu sumber atau sebab musabab terjadinya perubahan sosial adalah Al qur’an terlepas dari orang besar (pahlawan) dan gerakan sosial seperti yang dijelaskan oleh Jalaluddin Rahmat dalam bukunya yang berjudul “ Rehayasa Sosial “.

Bukan berarti manusia tidak meyakini rahmat dan hidayah  dari Sang khalik (Allah Swt). Tetapi manusia harus sadari  bahwa Allah  mengimbau  kepada seluruh umat manusia agar senantisa berdo’a dan berusaha. Ketika mengharapkan sesuatu dalam hidupnya. Seandainya manusia mampu memadukan  dua item ini  dalam hidupnya maka (Insya’Allah) Pakan terwujud apa yang di harapkannya (S.R Alinsiqaq).

Seandainya eksistensi IMM kedepan tetap bermain pada paradigma yang cenderung konservatif dan  memiliki kesadaran Megis maka identitas dan roh IMM kedepan akan hilang dan tidak dihitung oleh publik.  Oleh karena itu, langkah yang harus di lakoni oleh Mahasiswa yang merasa diri aktivis IMM adalah jangan pernah bosan dan pesismis dalam berjuang  selama Mahasiswa  tdak mempunyai Akidah dan ke Imanan yang Kokoh dan sempurna, Maupun selama pengusa di Negarah ini melaksanakan Amanahnya dengan baik dan transparan. (Sesuai dengan Perintah Allah dalam Surat Ali Imran 104). Inilah yang menjadi landasan Normatif kita dalm Berjuang yaitu menyuruh Maqruf’ Kebajikan dan Mencegah kemungkaran.


Wawancara Khusus

KH. Djamaluddin Amien

 

KH. Djamalauddin Amien (Mantan Ketua PW. Muhammadiyah Sulsel dan Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar)

Wawancara dilakukan di ruang kepala sekolah SMP Unismuh Makassar :: 07 Oktober 2010

Pewawancara :: Nasrul Haq Syarif & Dian Pramana Putra

Ketua Bidang dan Sekretaris Bidang Iptek PC IMM Kota Makassar Periode 2010

 

Bagaimana Pak Kiyai melihat keberadaan IMM dulu sampai sekarang (sejak pertama kali dirintis di kota makassar ) ??

Awalnya saya begitu tidak tau siapa yang rintis pertama. Kalau dipusat justur saya tau. Pak Jasman, Pak Amin dan ada orang di sul sulawesi selatan satu itu namanya Pak  Zainuddin Sialla. Kalau dikota Makassar itu Arfah Bas’ah tapi saya tidak taulah siapa yang rintis pertama karena saya dulu di Bantaeng  tahun 1962 baru pindah ke makassar. Pada tahun 1985 saya ketua wilayah Muhammadiyah. Jadi memang IMM ketika Itu boleh dikatakan tidak ada bukan belum ada. Apakah pernah ada tapi tidak jalan. Jadi IMM mulai muncul antara 1985 sampai 1990. Tapi Arfah Bas’ah yang lebih tau membangunkan kembali IMM karena dia berhasil.

 

Mungkin lebih jelasnya, Bagaimana pandangan Pak Kiyai terhadap IMM dulu dan sekarang ?

Kalau memang saya ketika itu tapi saya tidak bilang zaman dahulu. Begini, memang kalau soal semangat agak mundur dibanding dengan ketika itu. Wah ketikia itu malah kita sering juga direpotkan karena anak mudakan kalau bersemangat, sering karena semangatnya terkadang melihat ini tidak cukup sehingga biasa mengambil langkah – langkah diluar aturan.

Yang membedakan itu semangat, kecerdasan, popularitas . di zaman itu, itu yang saya rasakan. Memang semangat IMM ketika itu agak besar  dan banyak yang mereka lakukan.  Saya agak heran kenapa nd ada pelanjut mereka dikedokteran. Tapi itu wallahua ‘alam, tapi disitu ada pertanyaan.  Kenapa tidak berlanjut IMM di kedokteran Unhas padahal dulu katakanlah IMM dikota makassar itulah yang paling dasarnya dulu. Disamannya dr. Fruqan dan teman2nya seperti Andi Nurpati dan banyak dokter-dokter lainnya.

 

Secara umum seperti apa gerakan IMM di kota Makassar ?

Sama dengan muhammadiyah. Dulu IMM agak bangkit waktu berada di kedokteran unhas dan hampir disemua perguruan tinggi. Ada yang terkenal sekali dulu itu namanya dr. Furqan

 

IMM  di Unismuh ??

Di unismuh  rata. Tidak pernah juga tidak ada. Karena mungkin merasa dirumahnya. Orang biasa merasa kalau dirumahnya tidak ada tantangan, tidak sesuatu. Merasa aman-aman saja.

“Begini, memang kalau soal semangat agak mundur dibanding dengan ketika itu.”

 

 

 

 

Kalau IMM di UIN ??

Kalau saya katakanlah tidak terdengar  hanya saja kalau ada. Tapi hampir sama unismuh itu dengan uin artinya tidak pernah juga tidak ada.  Ada terus Cuma bagi saya bagaimana kehadiran IMM diperguruan tinggi katakanlah ada nilai tambah perguruan tinggi ketika IMM hadir terumtama pada segi  pembinaan akhlak, moral,

 

UNM ?

 

Kalau keadaan UNM  sama dengan UIN. Sebenarnya maaf kalau bisa saya katakan ada pertanyaan. Apa peranannya IMM disitu sehingga mahasiswa suka tawuran. Kalau IMM berperan disitu bisa menjadi stabilitator.

 

Apa kira strategi gerakaan IMM yang lebih bagus menurut Pak Kiyai ??

Jadi staterginya itu dirasakan kehadirannya ada manfaatnya bagi perguruan, lembagaga dan institusi.  Insitutusi merasakan kehadirannya. IMM sebagai atabilitator kampus. Masalah kebersihan, mengembangkan ukhuwah. Kajian itu penting tapi yang paling menentukan apa yang anda lakukan.  Bukan kajian-kajian yang negatif. IMM tidak boleh menjadi oposisi didalam kampus (baca: PTM)

 

Jadi Uztaz, bagaiman dengan kewajiban DAD bagi PTM ??

Itu sebenarnya tergantung pendekatan IMM dengan pimpinan kemudian memang celakanya kalau pimpinan tidak tau itu. Kalau PTM punya kewajiban “membina IMM” bukan lalu mau mengusai  artinya bagaimana menyuburkan IMM. Itu sudah kewajiban itu, semua pimpinan harus tau. Itu resmi.  IMM memposisikan dirinya sebagai organisasi intra dan pahamilah juga kondisi pimpinannya.

 

Jadi mungkin pertanyaan terakhir Uztaz, Apa harapan dan pesan untuk kader IMM ??

“Dimana anda berada, dirasakan manfaatnya”  sehingga IMM diperlukan. Bisa berperan yang baik dan diperebutkan.

 

Lampiran Info Latihan Instruktur Dasar

A.     Jadwal Pelaksanaan

Waktu dan Tempat Pelaksanaan

Berlangsung Pada Tanggal 20 Juni-26 Juni 2011

Bertempat di Wisma SLB Makassar (Jl. Dg Tata)

B.      Syarat – Syarat

Syarat Umum

Memiliki reputasi yang baik di IMM

Telah dinyatakan lulus pengkaderan Darul Arqam Madya

Menghafal surah-surah Pilihan beserta terjemahanya:

  1. -    QS : Al- An’am Ayat 160-163
  2. -    QS : Ibrahim Ayat 24 – 27
  3. -    QS : Al-Mu’minun Ayat 1-11
  4. -    QS : Al-Maaidah Ayat 6-7
  5. -    QS : Adz-Dzariyat Ayat 56-60
  6. -    QS : Luqman Ayat 12-19
  7. -    QS : Al-Isra Ayat 23-27

Pernah bertugas di pengkaderan Darul Arqam Dasar dibuktikan dengan Surat Mandat.
Menyetor pas foto (memakai almamater IMM) berwarna ukuran 2×3 dan 3×4 masing-    masing sebanyak 2 lembar
Biaya SWO : 100.000,- dan SWP : 50.000,-

Mengumpulkan Berkas Pendaftaran :

Syarat Khusus

-  Mengisi formulir pendaftaran

-  Membuat bahan ajar yang terdiri dari :

  • 3 Materi Wajib

(Aqidah, Ibadah, Akhlak, Ke-IMM-an, Ke-Muhammadiyah-an, dan Sejarah Perjuangan Islam)*

  • 1 Materi Muatan Lokal

(Konsep Diri, Konsep Manusia dalam Al-Qur’an, Kosmologi, Kemahasiswaan dan Ke-Organisasi-an, Pengantar Filsafat, dan Metode Pemahaman Islam)*

  • 1 Wacana Islam Kontemporer

-  Membawa surat mandat tugas di perkaderan DAD

-  Menjawab soal pretest

-  Membawa surat rekomendasi dari masing-masing komisariat

-  Membuat surat pernyataan kesediaan mengikuti proses pengkaderan dari awal sampai akhir.

  1. Mengikuti Tes Wawancara
  2. Mengikuti Psikotest
  3. Memakai Pakaian Hitam Putih :

IMMawan : Celana Kain Hitam, Kemeja Putih, dan memakai dasi

IMMawati : Rok Hitam, Kemeja Putih, dan Jilbab Hitam, Membawa Perlengkapan Sholat dan    Al-Qur’an terjemahan

Manual Jadwal Persiapan Latihan Instruktur Dasar

PC IMM Kota Makassar Periode 2011

  • Pelaksanaan Seleksi :

             Psikotest dilaksanakan pada :

             Hari/Tanggal      : Kamis, 09 Juni 2011

             Tempat               : Jl. Gunung Lompobattang No. 201 Makassar

 

Tes wawancara dilaksanakan pada :

             Hari/Tanggal      : Jum’at-Ahad, 10-12 Juni 2011

             Tempat               : Jl. Gunung Lompobattang No. 201 Makassar

 

 

  • Batas terakhir pengumpulan berkas pada tanggal 05 Juni 2011
  • Pengumuman hasil seleksi pada tanggal 17 Juni 2011

 


BAGI YANG TELAH MENGUMPULKAN BERKAS PENDAFTARAN

LATIHAN INSTRUKTUR DASAR

AGAR DAPAT HADIR MENGIKUTI SELEKSI PSIKOTEST PADA :

 Hari/Tanggal : Kamis, 09 Juni 2011

Waktu : 13.30-Selesai

Tempat : Jl. Gunung Lompobattang No. 201 Makassar

 

 

PONDASI DALAM PENCERAHAN PERADABAN

Segala puji hanya milik Allah yang telah memberikan begitu banyak nikmat kepada makhluk – Nya, Shalawat dan salam kepada junjungan Nabi kita, sang revolusioner sejati Muhammad sallallahu ‘alihi wasallam.Islam adalah satu – satunya agama yang diridhoi Allah subhanahu wata’ala merupakan sebuah Din yang dengan sempurna telah mengatur hidup dan kehidupan manusia, mulai dari ujung kaki sampai urusan negara telah diatur oleh Islam, tetapi dibalik kesempurnaan itu, perlu kita ketahui bahwa Islam adalah benda mati yang tidak akan fungsioner kecuali digerakkan oleh kaum muslimin itu sendiri. Oleh karena itu setiap muslim diwajibkan untuk mempelajari empat perkara untuk melakukan pencerahan peradaban:

Pertama: Ilmu

Maksud wajib disini adalah wajib ‘ain, yaitu sesuatu yang wajib dikerjakan oleh setiap muslim yang telah mendapat beban hukum (mukallaf ). Dalil yang menunjukkan wajibnya menuntut ilmu adalah hadist dari Anas bin Malik radiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah sallallahu ‘alahi wasallam bersabda : “ menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.”

Ilmu yang wajib dipelajari tersebut yaitu ilmu tentang Ma’rifatullah (mengenal Allah), Ma’rifatun Nabiy (mengenal Nabi ) dan Ma’rifatul Islam (mengenal Din Islam ) beserta dalil – dalilnya. Tiga perkara ini merupakan landasan utama yang mana Islam tidak tegak kecuali diatasnya dan seorang hamba akan ditanya tentang tiga perkara ini dalam kuburnya kelak. Seorang manusia jika telah mengetahui Rabbnya, Nabi dan agamanya dengan dalil – dalil maka sempurnalah agamanya.

Mengenal Allah merupakan landasan dalam Agama Islam, tidaklah seseorang dikatakan menganut Islam dengan sebenar – benarnya, kecuali harus mengenal Allah terlebih dahulu dengan mempelajari ayat – ayat syar’i yang tertuang dalam Al – Qur’an dan Sunnah Rasullah sallallahu ‘alaihi wasallam serta mempelajari tanda – tanda kebesaran Allah pada makhluk – Nya. Sebagai konsekuensi pengetahuan ini, seseorang harus menerima dan patuh kepada syariat Allah.

Mengenal Nabi adalah suatu kewajiban yang dibebankan kepada seorang mukallaf, mengenal Rasulullah adalah unsur pokok dalam masalah Agama Islam, karena beliau adalah penyampai risalah dari Allah, pengenalan ini menjadikan seseorang agar menerima semua yang dibawa oleh Rasulullah berupa hidayah dan agama yang benar.

Mengenal Agama Islam mempunyai dua makna, makna umum dan makna khusus, sebagai mana tertera dalam beberapa dalil bahwa Islam dikhususkan untuk umat ini saja, dan dalam beberapa dalil lain menunjukkan bahwa Islam sudah ada pada syariat – syariat sebelumnya, Syaikhul Islam mengomentari perkara tersebut bahwa Islam dalam pengertian umum adalah menyembah Allah semata dan tidak mensyarikatkan – Nya, ini adalah agama seluruh nabi dan rasul. Allah berfirman tentang Taurat dan Bani Israil: “ (Al Maidah : 44  )”.

14. dan diantara orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya Kami ini orang-orang Nasrani”, ada yang telah Kami ambil Perjanjian mereka, tetapi mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diberi peringatan dengannya; Maka Kami timbulkan di antara mereka permusuhan dan kebencian sampai hari kiamat. dan kelak Allah akan memberitakan kepada mereka apa yang mereka kerjakan.

Allah menyebutkan sifat para nabi dari Bani Israil dengan Islam, hal ini menunjukkan bahwa Islam bukan khusus untuk umat ini saja. Allah juga menyebutkan bahwa Musa ‘alaihissallam berkata kepada kaumnya (  Yunus : 83). Begitu juga tentang perkataan anak – anak Nabi Ya’kub : ( Al baqarah : 133 )

Adapun makna Islam secara khusus adalah agama yang dengannya Allah mengutus nabi – Nya Muhammad sallallahu ‘alahi wasallam yang merupakan agama terakhir dan tidak diterima agama apapun selain Islam. Firman Allah dalam  surat Ali Imran ayat 85 dan surat Al – Maidah ayat 3. Dari ayat diatas dapat diambil faedah bahwa Allah telah meridhai Islam sebagai agama umat ini.

Dalam mengenal tiga perkara itu harus dengan dalil ( bil adillah ), “ bil adillah “ yaitu bentuk jamak dari dalil, lafadz dalil adalah fa’iil bermakna faa’il yaitu ad-dalaalah artinya petunjuk, dalil artinya petunjuk untuk mencapai hal yang diinginkan, dalil tersebut terbagi dua yaitu dalil sam’i yaitu yang ditetapkan melalui wahyu dari Al – Qur’an dan As – Sunnah, dalil Aqli ( argumentasi logis ) yaitu yang diketahui melalui hasil penelitian dan pengamatan.

Ini mengisyaratkan bahwa tidak boleh bertaklid dalam masalah aqidah dan bahwasannya kita wajib memiliki pengetahuan tentang Agama Islam dengan dalil – dalilnya dari Al – Qur’an, As – Sunnah atau ijma’.

Kedua : Mengamalkannya

 Beramal dengan ilmu tersebut, karena ilmu tidak dicari kecuali untuk diamalkan yaitu mengubah ilmu tersebut menjadi sebuah perilaku nyata yang tercermin dalam setiap tindak tanduk dan pemikiran seorang manusia. Di dalam nash – nash syariat terdapat kewajiban mengamalkan ilmu dan pengaruh ilmu tersebut terlihat dalam diri si penuntut ilmu, dan juga terdapat ancaman bagi orang yang tidak mengamalkan ilmunya dan tidak membenahi diri sendiri sebelum memperbaiki orang lain.

Sungguh sangat bagus perkataan Al – Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah : “ seorang alim tetap dikatakan jahil sebelum ia mengamalkan ilmunya, jika ia mengamalkannya barulah ia dikatakan seorang alim”.  Ucapan ini mengandung makna yang dalam, karena jika seseorang memiliki ilmu namun tidak diamalkan maka ia tetap dikatakan jahil, begitu pula sebaliknya, seseorang tidak akan dikatakan ulama sejati kecuali ia mengamalkan ilmunya. Kemudian amalan adalah hujjah bagi seseorang, juga merupakan sebab mapannya ilmu tersebut pada dirinya. Oleh karena itu kita mendapatkan seorang yang mengamalkan ilmunya dapat mengingat ilmu tersebut dengan baik. Adapun yang tidak mengamalkannya maka ilmu tersebut akan dengan mudah terlupakan. Berkata sebagian Salaf “ dengan beramal dapat membantu kami dalam menghafal hadist “. Juga sebagaimana dikatakan sebahagian ulama “ barang siapa yang mengamalkan ilmunya maka Allah akan menganugerahkan kepadanya ilmu yang belum diketahuinya dan barang siapa yang tidak mengamalkan ilmunya maka dikhawatirkan Allah akan menghapus ilmunya”. Allah akan mewariskan ilmu yang belum ia ketahui maknanya ialah bahwa Allah akan menambahkan keimanan dan menerangi ilmunya serta akan membukakan untuknya berbagai cabang ilmu. Allah berfirman dalam Surat Muhammad : 17.

17. dan oraang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan Balasan ketaqwaannya.

Hendaklah seorang muslim mengetahui pentingnya mengamalkan ilmunya karena seorang yang tidak mengamalkan ilmunya maka ilmu tersebut akan menjadi penghujat dirinya, sebagaimana hadist Abu Barzah radiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Imam At – Tirmidzi, Rasulullah  bersabda: “ seorang tidak akan beranjak dari tempatnya pada hari kiamat nanti hingga ia ditanya tentang empat hal diantaranya : tentang ilmunya, apa yang ia telah amalkan darinya.”

Hadist ini tidaklah dikhususkan untuk ulama saja sebagaimana yang difahami oleh sebahagian orang, tetapi untuk semua orang yang telah mengetahui suatu perkara, maka dalam perkara ini hujjah telah ditegakkan terhadap orang tersebut. Jika seseorang telah mendengar ceramah atau khutbah jum’at yang mengandung peringatan untuk menjahui maksiat yang ia lakukan. Berarti ia telah mengetahui bahwa maksiat yang telah ia lakukan hukumnya haram. Inilah yang dikatakan ilmu dan berarti hujjah telah tegak atas orang tersebut. Telah tecantum dalam sebuah hadist dari Abu Musa Al – Asy’ary radiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Imam Muslim bahwa Rasulullah  bersabda : “ Al – Qur’an adalah hujjah untukmu dan juga dapat menghujatmu.”

Ketiga : Mendakwahkannya

Mendakwahkan yaitu menyeruh untuk mentauhidkan Allah serta mantaati – Nya. Ini  tugas para rasul dan pengikutnya. Allah berfirman ( yusuf 108 ), karena manusia jika sempurna potensi ilmiyahnya dan sempurna potensi amalnya, maka ia akan berusaha untuk membagi kebaikan tersebut kepada orang lain guna mengikuti langkah para rasul ‘alihimussalam.

Berdakwah di jalan Allah merupakan perkara yang agung dan besar pahalanya sebagaimana sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari ( 4210 ) dan Imam Muslim ( 2406 ): ” demi Allah, bahwa Allah memberi hidayah kepada seseorang malalui dakwahmu, itu lebih baik bagimu dari pada onta merah”.

Dakwah yang merupakan perantara untuk perbaikan dan penbinaan tidak akan dapat dipetik hasilnya melainkan jika si da’i mempunyai karakter yang menjadi sebab diterimanya dakwah, serta terlihatnya pengaruh dakwah tersebut. Di antara sifat tersebut adalah :

  1. Taqwa : maksudnya mencakup semua makna yang berkaitan dengan pelaksanaan perintah dan menghindari larangan serta menghiasi diri dengan sifat – sifat ahlul iman.
  2. Ikhlas : hendaknya dalam berdakwah hanya mengharapkan wajah dan ridha Allah, berbuat baik kepada makhluk – Nya serta menjahui sifat ingin terlihat lebih menonjol dibandingkan yang lain dan meremehkan orang yang didakwahi dengan menganggap bahwa mereka sebagai jahil dan serba kekurangan
  3. Ilmu : hendaklah seorang da’i mempunyai ilmu tentang apa yang ia dakwahkan serta mempunyai pemahaman dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah serta sejarah para salafus shaleh.
  4. Lapang dada dan dapat mengendalikan diri di saat sedang marah, karena yang menjadi medan dakwah adalah dada dan jiwa manusia yang tentu mempunyai tabiat yang berbeda – beda sebagaimana berbedanya bentuk dan rupa manusia tersebut
  5. Hendaknya memulainya dengan hal – hal yang terpenting sesuai dengan kondisi lingkungan mad’unya. Masalah – masalah aqidah dan ushuluddin menempati tempat yang terpenting, sabda Rasulullah  kepada Mu’adz bin Jabal radiyallahu ‘anhu “ hendaknya perkara yang pertama sekali yang engkau dakwahkan kepada mereka adalah syahadat bahwa tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah”.( H.R. Al Bukhari 1395 dan Muslim 19 dalam kitab Al Iman)
  6. Didalam dakwahnya, ia harus menempuh metode yang ada landasannya dari Al qur’anul Karim. Allah berfirman (an nahl 125 )

Hikmah adalah mengetahui kebenaran sekaligus mengamalkannya dan benar dalam perkataan dan perbuatan. Ini semua tidak akan didapati kecuali dengan memahami Al – Qur’an, fikih syariat Islam dan hakikat keimanan.

Al mau’idzatil hasanah adalah perintah dan larangan yang disertai dengan dorongan, ancaman dan perkataan lembut serta antusias dalam memberikan pengarahan

Wa jaadilhum billati hiya ahsan yaitu tempuhlah jalan yang kira – kira akan mendapat  sambutan yakni tetap teguh memegang kaidah dakwah dan menjauhkan diri dari reaksi – reaksi spontan negatif serta tidak terjebak mendahulukan permasalahan kecil daripada perkara yang lebih besar, agar dapat mengefisienkan waktu, menjaga kewibaaan diri dan kehormatannya.

Keempat : Bersabar Atas Segala Gangguan yang  Dialami.

Yaitu bersabar atas gangguan yang dihadapi ketika menyeru ke jalan Allah Ta’ala. Hendaknya seorang dai’I bersabar atas gangguan yang ia terima dari masyarakat, karena menyakiti para da’i sudah menjadi tabi’at manusia kecuali mereka yang telah Allah beri hidayah , sebagaimana firman Allah (Al An’am 34 )

34. dan Sesungguhnya telah didustakan (pula) Rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Allah kepada mereka. tak ada seorangpun yang dapat merobah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. dan Sesungguhnya telah datang kepadamu sebahagian dari berita Rasul-rasul itu.

Seorang  da’i wajib bersabar  dalam berdakwah dan  tidak menghentikannya. Sabar atas segala penghalang dakwahnya dan sabar dalam gangguan yang ia dapati, karena seorang da’i meminta masyarakat  agar mengendalikan syahwat dan keinginan meraka serta melepaskan kebiasaan – kebiasaan  kaumnya dan melaksanakam hukum Allah baik perintah maupun larangan – Nya, namun kebanyakan manusia tidak memahami manhaj ini. Oleh karena itu mereka mengarahkan segala potensi  untuk menghalangi dan memerangi para juru dakwah ini dengan berbagai jenis senjata. Allah menyebutkan wasiat  Luqmanul Hakim kepada anaknya ( luqman 17 ).

Seorang da’i hendaklah mengikuti jejak para rasul yang mulia yang telah Allah ceritakan kisahnya kepada kita berupa kesulitan – kesulitan yang mereka jumpai dalam berdakwah, kesempitan yang mereka rasakan karena berpalingnya orang – orang dari dakwahnya serta gangguan dari ucapan dan perbuatan, sementara perjalanan masih panjang dan pertolongan yang tak kunjung datang. Allah berfirman ( al ahqaf 35 ) dan Allah Ta’ala menjadikan kesudahan yang baik untuk orang yang bertaqwa dan Dia telah menetapkan pertolongan bagi para penyeru kebenaran. Allah berfirman ( al baqarah 214 )

Inilah empat hal harus dilakukan seorang muslim agar agama yang haq ini dapat tersebar dan menjadi rahmatan il ‘alamin.

 

FASTABIQUL KHAERAT…!!!

IMMawan Yusnar

Kabid Kader PC. IMM Kota Makassar Periode 2010

Seminar Ekonomi Islam

Posted: Juni 8, 2011 in Uncategorized

Berbicara mengenai ekonomi keislaman, maka kita akan mendapati bahwa Islam adalah agama yang komperhensif dan universal. Hal ini karena Islam bukan saja agama yg menjelaskan mengenai ritual peribadatan semata, namun Islam menyentuh seluruh sistem kehidupan, termasuk pengembangan ekonomi dan perbankan sebagai salah satu motor penggerak perekonomian bangsa.

Dalam Islam dikenal istilah muamalah, yakni aturan main manusia (rules of the game) dalam kehidupan sosial.  Dalam dunia muamalah pula dikenal istilah “tsawabit wa mutaghayyirat”, yakni prinsip dan variabel. Dalam sektor ekonomi, misalnya yang merupakan prinsip adalah larangan riba, sistem bagi hasil, pengenaan zakat sedangkan variabel adalah instrumen-instrumen untuk melaksanakan prinsip tersebut, misalnya penerapan asas mudharabah, Musyarokah, Murobahah. Tugas cendekiawan muslim sepanjang zaman adalah mengembangkan teknik penerapan prinsip-prinsip tersebut dalam variabel-variabel yang sesuai dengan situasi dan kondisi pada setiap masa. Pc Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Kota Makassar sebagai salah satu patron gerakan intelektual kampus menilai perlunya suatu gerakan pencerahan terhadap aspek ekonomi khususnya ekonomi perbankan. Olehnya itu, seminar ekonomi islam ini adalah suatu ikhtiar dari IMM untuk mengulas lebih jauh sistem ekonomi perbankan syariah, utamanya di Indonesia, hingga praktek-praktek usaha perbankan sekarang, apakah variabel-variabel yg digunakan sesuai dengan prinsip-prinsip Islam.

Seminar Ekonomi Islam yang mengangkat tema “Implementasi syari’ah dalam membangun perekonomian ummat dan bangsa” berlangsung di gedung Training Centre UIN Alauddin Makassar pada tanggal 7 Juni 2011. Kegiatan ini didahului dengan pembukaan kemudian menghadirkan materi yang dibawakan oleh para pakar di bidang ekonomi dan islam. Hadir dalam kegiatan ini sebagai narasumber adalah Prof. DR. H Halide (guru besar Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin), Prof. DR. Gagaring Pagalung, S.E., M.S., Akt., Prof. DR. H. Arifuddin Ahmad, M.Ag. (Guru besar dan Dekan Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Alauddin Makassar), dan DR. H. Muslimin Kara, M. Ag (Dosen Fak. Syariah dan Hukum UIN alauddin Makassar). Acara berlangsung mulai pukul 09.30 wita hingga pukul 14.30 wita dengan kuantitas peserta kurang lebih 82 orang dari berbagai pimpinan komisariat se-kota Makassar.

Sesuai dengan tema kegiatan, materi yang disajikan menyangkut tinjauan ekonomi Islam dari sisi normatif Islam, yakni Al-Qur’an dan Hadits yang dibawakan oleh ayahanda Prof. DR. Arifuddin Ahmad, M.Ag. Selanjutnya materi Implementasi Syari’ah dalam dunia perbankan dengan narasumber ayahanda DR. H. Muslimin Kara, M.Ag.
Materi berikutnya yakni Akuntabilitas Sistem Pengelolaan Keuangan berbasis Syari’ah dalam Perbankan Islam oleh ayahanda Prof. DR. H. Gagaring Pagalung, M.S., Akt. Adapun materi terakhir yakni Konsepsi perbankan Syari’ah dan Prakteknya dalam mewujudkan Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur oleh ayahanda Prof. DR. H. Halide.

Acara berlangsung semarak karena peserta sangat antusias dalam membahas problematika perbankan syariah di Indonesia dan didukung oleh pemateri yang sangat atraktif dalam mengupas masalah.

Seminar pada akhirnya ditutup dengan komitmen bersama untuk mengawali, menggerakkan, dan mengawasi implementasi nilai-nilai perekonomian Islam dalam seluruh denyut sistem lembaga khususnya lembaga ekonomi perbankan.

billahi fii sabilil Haq

Fastabiqul Khairat